PORTALTOPIC – 10 Tradisi Unik Ramadan di Seluruh Dunia
Bulan Ramadan merupakan momen istimewa bagi umat Muslim di seluruh dunia. Selain menjalankan ibadah puasa, berbagai negara memiliki tradisi unik yang menambah kekayaan budaya dalam menyambut dan menjalani bulan suci ini. Tradisi-tradisi tersebut mencerminkan kearifan lokal dan cara khas masing-masing komunitas dalam merayakan Ramadan. Berikut ini adalah sepuluh tradisi unik Ramadan dari berbagai penjuru dunia yang menarik untuk disimak.
1. Festival Fanous di Mesir
Di Mesir, masyarakat menyambut Ramadan dengan tradisi menyalakan lentera berwarna-warni yang dikenal sebagai Fanous. Tradisi ini bermula pada masa Dinasti Fatimiyah, ketika penduduk Kairo menyalakan lentera untuk menyambut kedatangan Khalifah Al-Mu’izz li-Din Allah. Hingga kini, lentera Fanous menjadi simbol kegembiraan dan persatuan selama Ramadan di Mesir. Setiap sudut kota Kairo dipenuhi dengan cahaya lentera yang memancarkan suasana meriah dan hangat, mencerminkan semangat kebersamaan dalam menjalani ibadah puasa.
2. Tradisi Mandi Belimau di Indonesia
Di Indonesia, khususnya di Sumatera Barat, terdapat tradisi Mandi Belimau yang dilakukan menjelang Ramadan. Tradisi ini melibatkan mandi bersama menggunakan air yang dicampur dengan perasan jeruk nipis (limau) sebagai simbol penyucian diri sebelum memasuki bulan suci. Kegiatan ini biasanya dilakukan di sungai atau sumber air alami lainnya, diikuti oleh doa dan zikir bersama. Mandi Belimau mencerminkan pentingnya kebersihan lahir dan batin sebagai persiapan menyambut Ramadan.
3. Tembakan Meriam Penanda Buka Puasa di Lebanon
Di Lebanon, tradisi menembakkan meriam saat waktu berbuka puasa telah berlangsung sejak era Kesultanan Ottoman. Tembakan meriam ini berfungsi sebagai penanda bahwa waktu berbuka telah tiba, membantu masyarakat mengetahui saat yang tepat untuk mengakhiri puasa. Meskipun teknologi modern seperti jam dan pengeras suara telah tersedia, tradisi ini tetap dilestarikan sebagai bagian dari warisan budaya dan sejarah Lebanon. Suara dentuman meriam setiap sore selama Ramadan menjadi ciri khas yang dinantikan oleh masyarakat setempat.
4. Penabuh Genderang Sahur di Turki
Di Turki, terdapat tradisi unik untuk membangunkan masyarakat saat sahur dengan penabuh genderang yang berkeliling di permukiman. Para penabuh, yang dikenal sebagai Ramazan Davulcusu, mengenakan pakaian tradisional Ottoman dan memainkan genderang sambil menyanyikan lagu-lagu khas Ramadan. Tradisi ini telah berlangsung selama berabad-abad dan menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Ramadan di Turki. Selain membangunkan warga untuk sahur, kehadiran penabuh genderang juga menambah semarak suasana malam Ramadan di berbagai kota di Turki.
5. Festival Garangao di Qatar
Di Qatar, terdapat tradisi Garangao yang dirayakan pada malam ke-15 Ramadan. Anak-anak mengenakan pakaian tradisional dan berkeliling dari rumah ke rumah sambil menyanyikan lagu-lagu khas, mengumpulkan permen dan kacang sebagai hadiah. Tradisi ini mirip dengan perayaan Halloween di beberapa negara Barat, namun dengan nuansa dan makna yang berbeda. Garangao bertujuan untuk mempererat hubungan antarwarga dan menanamkan nilai-nilai kedermawanan serta kebersamaan sejak usia dini. Perayaan ini menjadi momen yang dinantikan oleh anak-anak dan keluarga di seluruh Qatar.

6. Chaand Raat di Pakistan
Di Pakistan, malam terakhir Ramadan dikenal dengan sebutan Chaand Raat, yang berarti “malam bulan”. Setelah hilal terlihat menandakan berakhirnya Ramadan, masyarakat, terutama wanita dan anak-anak, berbondong-bondong ke pasar untuk membeli perhiasan, pakaian baru, dan menghias tangan dengan henna. Pasar-pasar tetap buka hingga larut malam, menciptakan suasana meriah menjelang Idul Fitri. Chaand Raat menjadi waktu bagi keluarga dan teman-teman untuk berkumpul, berbagi kebahagiaan, dan mempersiapkan diri menyambut hari raya dengan penuh suka cita.
7. Tradisi Padusan di Jawa, Indonesia
Di Pulau Jawa, Indonesia, terdapat tradisi Padusan yang dilakukan sehari sebelum Ramadan. Padusan berasal dari kata “adus” yang berarti mandi dalam bahasa Jawa. Masyarakat melakukan mandi besar di sumber-sumber air seperti sungai, pantai, atau mata air sebagai simbol penyucian diri sebelum memasuki bulan puasa. Tradisi ini mencerminkan pentingnya kebersihan fisik dan spiritual dalam menyambut Ramadan. Selain itu, Padusan juga menjadi ajang berkumpul dan mempererat tali silaturahmi antarwarga.
8. Nyekar Menjelang Ramadan di Indonesia
Selain Padusan, masyarakat Indonesia juga memiliki tradisi Nyekar atau ziarah kubur menjelang Ramadan. Kegiatan ini melibatkan kunjungan ke makam keluarga atau kerabat untuk membersihkan area makam, menabur bunga, dan mendoakan arwah leluhur. Nyekar merupakan bentuk penghormatan kepada mereka yang telah berpulang dan sebagai pengingat akan kehidupan yang fana. Tradisi ini memperkuat ikatan keluarga dan menanamkan nilai-nilai spiritual menjelang bulan suci.
9. Tradisi Seheriwalas di India
Di India, khususnya di kota Delhi, terdapat tradisi Seheriwalas di mana sekelompok orang berkeliling kota pada dini hari untuk membangunkan umat Muslim agar bersiap untuk sahur. Mereka berjalan sambil menyanyi
10. Tradisi Midfa Al Iftar di Uni Emirat Arab
Di Uni Emirat Arab (UEA), tradisi Midfa Al Iftar atau penembakan meriam untuk menandai waktu berbuka puasa telah berlangsung selama ratusan tahun. Tradisi ini dimulai sejak masa pemerintahan Ottoman dan masih terus dilestarikan hingga kini.
Setiap hari menjelang magrib, meriam ditembakkan di berbagai lokasi strategis seperti Abu Dhabi, Dubai, dan Sharjah, untuk memberi tanda kepada warga bahwa waktu berbuka telah tiba. Meski saat ini sudah ada teknologi modern seperti aplikasi dan pengumuman masjid, suara meriam tetap menjadi simbol budaya Ramadan yang ikonik di UEA.
Meriam yang digunakan biasanya adalah meriam klasik bersejarah yang hanya ditembakkan selama bulan Ramadan dan Idul Fitri. Tradisi ini juga menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin merasakan atmosfer Ramadan yang khas di Timur Tengah.


















