
DAFTAR ISI
TogglePORTALTOPIC – Pada Januari 2025, masyarakat Indonesia dikejutkan dengan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah SPBU Shell. Antrean panjang di beberapa lokasi menimbulkan keresahan di kalangan pengendara yang bergantung pada BBM non-subsidi.
Presiden Direktur dan Country Chair Shell Indonesia, Ingrid Siburian, akhirnya buka suara. Dalam pertemuan dengan Komisi XII DPR RI, ia menjelaskan secara rinci faktor utama yang menyebabkan kekosongan stok BBM di SPBU Shell. Dari pernyataannya, diketahui bahwa keterlambatan izin impor dan hambatan rantai pasok menjadi penyebab utama krisis ini.
Keterlambatan Izin Impor Jadi Faktor Utama
Salah satu faktor terbesar yang memicu kelangkaan BBM di SPBU Shell adalah keterlambatan dalam memperoleh izin impor dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Shell Indonesia telah mengajukan permohonan neraca komoditas sejak September 2024. Namun, dokumen tersebut baru disetujui pada 20 Januari 2025. Setelah itu, persetujuan impor BBM baru diberikan pada 23 Januari 2025.
Akibat keterlambatan ini, pasokan BBM di SPBU Shell terganggu. Banyak SPBU kehabisan stok karena stok cadangan yang ada tidak cukup untuk menutupi permintaan yang terus meningkat.
Hambatan Rantai Pasok di Luar Kendali Perusahaan
Selain izin impor yang terlambat, hambatan di rantai pasok juga menjadi faktor penyebab kelangkaan BBM di SPBU Shell. Meskipun izin impor sudah diberikan, distribusi BBM dari sumber pasokan ke Indonesia memerlukan waktu.
Proses pengiriman BBM dari luar negeri memakan waktu sekitar 20 hari. Mulai dari penunjukan kapal, pengangkutan produk, bongkar muat di terminal, hingga pengujian sebelum BBM didistribusikan ke SPBU.
Dengan adanya keterlambatan ini, Shell Indonesia kesulitan memenuhi permintaan di beberapa wilayah, menyebabkan SPBU mereka mengalami kekosongan stok dalam periode tertentu.
Upaya Shell untuk Menormalisasi Pasokan BBM
Menanggapi kelangkaan BBM, Shell Indonesia mengambil beberapa langkah mitigasi agar stok dapat kembali normal. Beberapa upaya yang dilakukan antara lain:
Distribusi Stok yang Ada Secara Proporsional
Shell memastikan stok yang masih tersedia di terminal distribusi dibagi secara proporsional ke SPBU yang masih beroperasi.Percepatan Pengiriman BBM
Setelah mendapatkan izin impor pada 23 Januari 2025, Shell langsung mempercepat proses pengiriman dari negara asal BBM mereka.Koordinasi dengan Pemerintah
Shell terus berkomunikasi dengan Kementerian ESDM agar ke depannya tidak ada lagi kendala perizinan yang bisa berdampak pada pasokan BBM.
Berkat langkah-langkah ini, Shell berhasil menormalkan pasokan BBM di seluruh SPBU mereka pada 11 Februari 2025.

Pandangan Pemerintah Terkait Kelangkaan BBM
Pemerintah melalui Kementerian ESDM memberikan respons atas kelangkaan BBM di SPBU Shell. Menurut Menteri ESDM, izin impor sebenarnya telah diberikan sesuai prosedur. Namun, adanya keterlambatan dalam distribusi BBM dari luar negeri menjadi faktor utama kelangkaan.
Pemerintah juga mengakui bahwa proses administrasi perizinan impor masih perlu diperbaiki agar tidak menghambat operasional perusahaan BBM non-subsidi seperti Shell.
Ke depan, pemerintah berencana mempercepat proses birokrasi agar perusahaan-perusahaan penyedia BBM tidak mengalami keterlambatan dalam mendapatkan izin impor.
Dampak Kelangkaan BBM dan Langkah Antisipatif
Kelangkaan BBM ini berdampak besar bagi konsumen. Banyak pengendara yang harus beralih ke SPBU lain dan mengalami antrean panjang.
Beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah kejadian serupa di masa depan meliputi:
Peningkatan Koordinasi antara Perusahaan dan Pemerintah
Shell dan perusahaan penyedia BBM lainnya harus terus berkoordinasi dengan pemerintah agar izin impor bisa dikeluarkan lebih cepat.Diversifikasi Sumber Pasokan BBM
Mengandalkan satu sumber impor bisa berisiko. Oleh karena itu, perusahaan BBM perlu mencari lebih banyak alternatif pemasok agar distribusi lebih fleksibel.Memperbaiki Manajemen Stok Cadangan
Menyediakan stok cadangan yang lebih besar di terminal distribusi bisa menjadi solusi untuk menghadapi potensi keterlambatan pasokan.
Dengan adanya langkah-langkah ini, diharapkan ke depan tidak terjadi lagi kelangkaan BBM yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat.













